Arsip Blog

Membayar Lebih, Wujud dari Berbagi

Pertemuan antara dua orang manusia tentu tidak terjadi secara kebetulan, melainkan telah ada dalam skenario Allah SWT, termasuk dalam hal jual-beli antara penjual dan pembeli. Hal ini terjadi beberapa bulan yang lalu, tepatnya 11 November 2018, saat saya hendak mencari kasur, guling dan bantal karena akan kedatangan tamu istimewa, ayah, Ibu dan adik kandung. Istimewa bukan hanya dilihat sebagai keluarga, namun mereka datang jauh dari Bekasi menuju Bengkulu dengan jarak tempuh yang cukup jauh dengan mengeluarkan biaya tidak sedikit untuk menengok kelahiran putra kedua kami.

Belum sempat mengendarai motor dalam jarak yang jauh, rupanya Allah SWT secara cepat menjawab kebutuhan saya. Di persimpangan keluar gang perumahan, sudah ada pedagang keliling yang menjual Kasur Palembang, guling dan bantal. Tanpa pikir panjang, daripada saya harus bergerak lebih jauh sedangkan hari sudah sore, akhirnya saya mendatangi pedagang tersebut untuk membeli barang dagangannya.

Berdiri di hadapan pedagang tersebut, tampak sekali kelelahan yang tidak dapat disembunyikan dari wajah pria berusia 50-an tahun itu. Wajar, sebab yang ia pikul keliling kota di bahunya sangat banyak, 2 buah kasur palembang ukuran sedang, 2 kasur palembang ukuran besar, serta bantal dan guling masing-masing hampir setengah lusin. Alangkah beratnya!

Saya yang memang sudah sangat berniat membeli, mendatangi pedagang kasur untuk bertransaksi jual beli sebuah kasur palembang ukuran sedang, dua buah bantal dan satu guling. Sambil bercakap-cakap, ada hal yang mengejutkan saya. Ternyata di balik keletihannya yang telah berkeliling kemana-mana di hari itu, belum ada keuntungan yang diperoleh. Belum ada satu barangpun yang terjual, padahal hari sudah senja. Artinya, saya adalah pembeli pertama setelah seharian bapak tua itu berkeliling.

Melihat upayanya yang telah sedemikian keras, tidak ada proses tawar menawar dalam pembelian yang saya lakukan. Saya membayar dengan harga melebihi dari nominal yang ia jual, Rp. 50.000 lebih banyak dari harga seharusnya. Paling tidak, ada yang bisa ia bawa kerumah saat bertemu keluarga, menjaga dapur tetap mengepul serta mempertahankan kedua anaknya tetap bersekolah.

***

Bagi saya, berbagi tidak hanya didefinisikan sebagai melaksanakan kewajiban berzakat, anjuran memberi sedekah dan infaq, wakaf maupun pertolongan yang sifatnya non materiil, namun juga bisa dilakukan dalam bentuk lain. Membeli barang dengan harga yang dilebihkan dari penjual yang berasal dari kalangan miskin, kurang mampu atau yang lebih membutuhkan dan tidak seberuntung kita yang diberi kelebihan rezeki juga termasuk perbuatan utama, bahkan dapat dikategorikan sebagai Berbagi secara tersembunyi/tersirat.

Dalam sebuah contoh yang dinisbatkan kepada Imam Qurtubi dari guru-gurunya, “Dia bersedekah kepada orang lemah yang masih bekerja (berdagang), dalam bentuk membeli dagangannya untuk melariskan barang dagangannya atau membelinya dengan harga yang lebih tinggi dan berbuat baik kepadanya”

Dalam syarh Muslim karangan Imam Nawawi, beliau merinci jenis sedekah yang lebih utama dilakukan sembunyi-sembunyi, “Ini adalah sedekah sunnah, maka mengeluarkannya secara rahasia itu lebih utama. Karena lebih dekat kepada keikhlasan dan jauh dari riya’, Adapun zakat wajib menampakannya itu lebih utama.”

Membeli barang dagangan dengan harga normal maupun dilebihkan, secara langsung, sadar atau tidak, telah berkontribusi dalam membantu pedagang tersebut dalam mencukupi kebutuhannya. Dengan berbuat demikian, atas keyakinan kepada Allah SWT, juga akan mendapat dua ganjaran sebagaimana pahala sedekah. Pertama, dari kebaikan perbuatan yang kita lakukan atau sifat sedekah/berbagi itu sendiri. Kedua, dari kebaikan kita menyenangkan hati orang lain yang merasa kehidupannya terbantu walau hanya sesaat.

Dengan membeli barang dagangan kaum kurang mampu dengan harga lebih juga merupakan bentuk apresiasi atas usaha mencari rezeki dengan berdagang. Hal ini barangkali lebih baik dibandingkan dengan memberi sesuatu kepada peminta-minta yang didalamnya tidak didahului dengan bekerja mencari rezeki. Harga diri dengan bekerja inilah yang sepatutnya kita dorong, kita bantu dan kita laksanakan dengan membeli barang dagangannya, karena mereka masih meyakini masih ada Dzat yang Maha Kaya yang akan mencukupi mereka dengan bekerja. Masih ada sikap Harap kepada Allah SWT. Bukankah sebaik-baik iman kepada Allah adalah disertai rasa Cinta, Takut dan Harap?

Sebaliknya, tanpa merendahkan peminta-minta, apabila secara terus-menerus berbagi kepada mereka, sadar atau tidak yang kita lakukan adalah semakin membuat harga diri mereka rendah, menjauhkan sikap tidak mau berusaha dan menjauhkan keyakinan kepada Allah SWT sebagai sebaik-baik pemberi rezeki. Sesekali boleh saja, namun jika berulang kali dengan peminta-minta yang sama dan sering dijumpai, maka dikhawatirkan semakin menjauhkan mereka dari sikap Harap kepada Allah SWT.

***

Setiap manusia tentu memiliki berbagai pilihan, termasuk dalam membeli suatu barang. Andai yang saya lakukan saat itu tidak mempedulikan si Bapak penjual Kasur hingga terus melaju ke Toko penjual Kasur yang jaraknya masih sekitar 5 kilometer, apa yang saya dapat belum tentu sama. Bisa jadi, kasur yang diperoleh tidak sesuai keinginan. Selain itu, ada potensi toko yang akan didatangi tutup karena saat itu adalah hari Ahad, hari dimana mayoritas toko-toko di Kota Bengkulu juga meliburkan diri. Jika sudah seperti ini, tentulah akan smakin memakan banyak energi dan waktu dengan lama-lama berkeliling. Kalaupun saya mendapati kasur serupa di toko lain, juga tidak ada jaminan didapat dengan harga yang murah dan wajar. Yang tidak kalah penting, belum tentu ada nilai “BERBAGI” dalam transaksi yang dilakukan.

Atas izinNya, hingga saat ini kasur tersebut masih termanfaatkan dan dalam kondisi yang baik. Tidak ada saya temui sobekan atau cacat lain pada kasur tersebut. Padahal kasur itu sering dipakai di ruang tamu untuk sekedar tidur-tiduran oleh putra pertama saya. Mungkin inilah keberkahan yang Allah turunkan kepada kami dari apa yang kami beli dengan harga lebih kepada kalangan yang membutuhkan.

Jangan Takut Untuk Berbagi, karena berkahnya sangat terasa di dunia, Mudah-mudahan ganjarannya membantu mengantarkan pengamalnya ke Surga. Berbagi tidak akan mengurangi harta kita. Tidak ada rumus pengurangan harta dari berbagi, karena Allah SWT yang memegang kendali atas semua rezeki kita. Tinggal kita sebagai manusia senantiasa bersikap Harap kepadaNya dengan didahului Ikhtiar dan Doa.

Kini Berbagi menjadi lebih mudah, dengan layanan donasi dari Dompet Dhuafa.

Sesuai dengan mottonya, layanan donasi di dompet dhuafa memberikan kemudahan, kebermanfaatan dan bermakna. Kemudahan berbagi dalam bentuk sedekah maupun zakat cukup dilakukan melalui transfer ke rekening dompet dhuafa. Selain itu, bersedekah di dompet dhuafa juga memiliki nilai kemanfaatan yang tinggi karena disalurkan kepada sesama manusia yang benar-benar membutuhkan. Dengan adanya skala prioritas penerima manfaat layanan donasi menjadikan sedekah di dompet dhuafa kian bermakna baik bagi donatur maupun penerima sedekah.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

Memahami Esensi Berkurban

Berkurban tidak semata-mata menyembelih hewan pada waktu ‘Iedul Qurban, walaupun kata qurban sendiri secara bahasa adalah hewan yang disembelih. Akan tetapi yang lebih penting adalah memahami makna qurban itu sendiri sebagai sarana qurbah, yakni mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Hajj ayat 37, daging dan darah hewan qurban yang disembelih tidak akan dapat mencapai keridlaan Allah melainkan ketakwaan dari orang yang berkurban.  Ketakwaan inilah yang bersifat fundamental yang setidaknya harus dimiliki setiap orang yang diberi kelapangan rizki untuk dapat melaksanakan perintah berkurban.

Saat nilai takwa ini tertanam dalam hati, maka dengan sendirinya nilai ibadah qurban yang bersifat vertical (hablumminallah) akan bertambah menjadi suatu bentuk hablumminannas yang dapat dirasakan oleh kerabat maupun kaum tak berpunya. Bentuk kepedulian dengan berbagi hewan sembelihan ini tentunya dapat mengurangi kecemburuan sosial yang terkadang kerap terjadi antara kaum berpunya dengan kaum tak berpunya.

Momen Idul Adha hingga akhir hari tasyriq (13 Dzulhijjah) adalah saat yang indah yang dirasakan oleh kaum fakir miskin yang tentunya tidak mereka rasakan pada hari-hari lainnya. Pada saat inilah, apa yang biasanya dirasakan oleh orang berkecukupan harta  dapat dirasakan pula oleh golongan bawah. Semua orang bisa memakan daging tak terkecuali bagi yang tidak sanggup membelinya.

Jika kita dapat melihat lebih dalam, sungguh bisa kita dapatkan betapa indahnya Islam yang mensyariatkan hal demikian. Disamping perintah berkurban, masih ada lagi perintah membayar zakat fitrah maupun zakat mal yang bila dioptimalkan berpotensi sebagai pemecah kebuntuan di antara sesama. Perintah-perintah seperti ini menyuratkan secara lugas bahwa kekayaan mutlak tidak berlaku di sisi Allah selama apa yang dimilikinya itu tidak mampu meningkatkan keimanannya, salah satunya dengan menjalankan perintah berkurban  baik perseorangan maupun berserikat.

Dengan berkurban, rasa kepedulian sosial akan tumbuh dalam diri seseorang. Dan yang patut kita yakini adalah bahwa perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, tidak akan pernah habis hartanya karena apa yang disedekahkannya itu. Sebaliknya, hartanya akan menjadi berkah tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga orang lain.

Hifdzi Ulil Azmi

Mahasiswa Farmasi FMIPA UI

(dimuat di harian Seputar Indonesia, Selasa 9 Desember 2008)