Arsip Blog

QRIS dan Pembayaran Non Tunai Generasi Milenial

Pembayaran non tunai dalam dua tahun terakhir sedang digemari, baik dari pihak penjual maupun pembeli. Dilansir dari Detiknews (01/10/19) berjudul Tren Pembayaran Non-Tunai di Pasar Modern, tidak hanya toko modern, pedagang pada pasar tradisional pun turut serta menerima pembayaran tanpa uang secara fisik, contohnya di pasar BSD Tangerang. Bahkan, para pedagang yang melayani pembayaran jenis ini terlihat lebih ramai dibanding pedagang lain yang hanya melayani pembayaran secara tunai.

Masih dari sumber berita yang sama, dijelaskan bahwa pembeli lebih memilih penjual yang melayani pembayaran secara non tunai. Bagi pembeli yang memiliki dompet digital, sebelum memilih produk yang diinginkan, mereka umumnya menanyakan ke penjual perihal bisa atau tidaknya melakukan transaksi tanpa uang. Saat penjual menanggapi tidak menyediakan pembayaran secara non tunai, pembeli umumnya segera pindah ke lapak lain. Alasannya, pembayaran secara non tunai mampu memberikan cashback sehingga jumlah yang dibayarkan lebih sedikit dari yang seharusnya.

Bagi penjual, terdapat alasan yang membuat pedagang menyediakan layanan pembayaran secara non tunai. Umumnya, mereka tidak perlu repot dalam menyediakan uang kembalian. Beberapa pedagang lain berujar supaya terhindar dari uang palsu dan supaya mendapatkan cashback. Ternyata, cashback tidak hanya dirasakan pembeli, tetapi juga penjual. Cashback membuat penerimaan dari dagangan yang dijual menjadi lebih tinggi dari harga jual seharusnya.

Pembayaran non tunai pada kenyataannya menawarkan berbagai kemudahan dan kecepatan dalam transaksi bagi penjual dan pembeli. Mekanisme ini mengungguli cara lama (tunai) yang lambat dan sulit. Dari segi efisiensi, dengan adanya cashback, pembayaran non tunai juga secara nyata lebih hemat.

Pembayaran non tunai sebagaimana di atas merupakan wujud dari revolusi industri 4.0 yang merubah pola pembuatan barang dan penyediaan jasa dalam informasi digital. Digitalisasi yang menawarkan kecepatan, kemudahan dan akses di luar jangkauan ini awalnya hanya mendorong masyarakat untuk ikut berpartisipasi. Perlahan tapi pasti, semakin banyak orang yang ikut dengannya. Lambat laun, digitalisasi telah menjadi budaya/tren yang menghinggapi sebagian besar orang. Bahkan, pada beberapa penyedia jasa/layanan mewajibkan penggunanya untuk beralih ke sistem baru. Hal ini kemudian memaksa setiap orang untuk ikut menggunakannya. Bagi yang tidak turut serta, bukan hanya ketinggalan zaman, tetapi juga membuat hidup bertambah sulit.

Berbagai Mobile Payment Non Tunai

Berbagai Mobile Payment Non Tunai. sumber : inet.detik.com

Tawaran pembayaran non tunai yang sangat menarik sangat sayang jika disia-siakan, apalagi bagi generasi milenial yang hidup pada zaman berkemajuan seperti saat ini. Semua aspek yang serba mudah, cepat dan menguntungkan selalu menjadi incaran generasi milenial. Penyedia jasa, layanan dan barang menyadari benar hal ini. Dampaknya, tentu saja sistem pembayaran non tunai kian tumbuh subur di Indonesia. Pembayaran dengan OVO, Gopay, LinkAja, Dana, Nobu e-pay dan lain-lain kini sudah sangat lumrah kita jumpai.

Transaksi secara non tunai melalui dompet digital dapat terlaksana menggunakan suatu kode cepat atau biasa disebut Quick Response (QR). QR code menunjukkan tampilan bergambar dua dimensi yang mengandung informasi transaksi, seperti barang yang dibeli, jumlah barang, nilai transaksi, tempat transaksi hingga potongan harga yang diperoleh, hampir sama dengan struk cetak dari sebuah toko.

Sayangnya, walaupun penggunaan QR Code pada pembayaran non tunai dapat dilakukan secara cepat dan mudah, namun keluaran QR code tersebut sangat spesifik untuk pembayaran dengan platform tertentu. Tiap penyedia jasa/layanan harus menyediakan banyak aplikasi Fintech agar bisa mencakup semua metode pembayaran non tunai. Banyaknya aplikasi membuat toko menjadi cukup repot ketika pembeli yang datang silih berganti menggunakan metode pembayaran yang berbeda, OVO, Gopay lalu LinkAja misalnya. Penjaga toko harus segera berganti aplikasi pembayaran non tunai agar semua dapat terlayani.

Tingginya pembayaran non tunai disadari oleh Bank Indonesia sebagai peluang untuk semakin mendorong kecepatan dan kemudahan mekanisme pembayaran tersebut disamping mengatasi permasalahan yang terjadi. Selain itu, QR Code yang spesifik dan tidak terstandar untuk setiap jenis pembayaran memungkinkan sifat transaksi yang tidak aman. Pada 17 Agustus 2019, Bank Indonesia akhirnya meluncurkan inovasi kode terstandar dalam pembayaran dengan sebutan QRIS (Quick Response Code Indonesia Standard) yang dapat digunakan oleh platform apa saja. Dengan Kode ini, apapun pembayaran Fintech yang digunakan dapat tercover dalam satu code QR terstandar keluaran BI, sesuai dengan jargonnya UNGGUL (Universal, Gampang, Untung, Langsung).

Integrasi semua pembayaran non tunai dalam satu kode sangat diperlukan demi meningkatkan kemudahan dan kecepatan pembayaran. Selain itu, adanya QR Code terstandar juga akan membuat transaksi lebih aman dan nyaman. Dengan QRIS, pengawasan transaksi juga dapat dilakukan secara langsung oleh pemerintah melalui Bank Indonesia.

Dengan adanya QRIS yang akan diberlakukan secara masif pada Januari tahun 2020, pembayaran non tunai diyakini akan semakin mudah, cepat dan menguntungkan. Aspek positif ini tentu semakin menarik generasi milenial yang menghendaki ketiga hal tersebut. Melihat potensi transaksi jual beli non tunai yang semakin tinggi, pembayaran dengan QRIS oleh generasi milenial akan semakin meningkatkan jual beli dan mendorong hidupnya perekonomian Indonesia.

Bagi generasi milenial kalangan penjual, adanya QRIS akan membuat mereka tidak harus bekerjasama dengan banyak penyelenggara jasa sistem pembayaran (PJSP) untuk mengakomodir berbagai macam mobile payment pada pembeli. Dengan demikian, transaksi akan semakin singkat dan mudah. Penjual juga lebih mudah menghitung keuntungan yang diperoleh karena tidak perlu membuka seluruh aplikasi PJSP. Selain itu, penjual juga tidak akan direpotkan dengan hal lain yang terjadi pada pembayaran tunai seperti menghitung uang pembayaran, menyediakan uang kembalian serta potensi menerima uang palsu.

Bagi generasi milenial kalangan pembeli, tidak perlu lagi memiliki banyak aplikasi mobile payment. Semuanya telah terintegrasi dalam QRIS. Pembeli yang hanya memiliki dompet digital OVO misalnya, dapat bertransaksi dengan penjual yang hanya menyediakan pembayaran non tunai dengan Gopay. Adanya QRIS membuat semua pembayaran non tunai dapat dilakukan untuk seluruh PJSP yang telah terdaftar di Bank Indonesia.

Dengan QRIS, Transaksi bisa dilakukan dimana saja (Universal), Mudah (Gampang), Semakin mengungtungkan / hemat (Untung), dan bisa dilakukan secara Langsung. QR Standar Pembayaran Digital Ala Milenial. #QRStandarPembayaranDigitalAlaMilenial