Arsip Blog

SDM yang berdaya guna dan tepat guna

Seputar Indonesia, 19 Februari 2010

Kualitas Sumber daya manusia (SDM) Indonesia hingga kini masih menjadi suatu persoalan yang patut dibenahi. Minimnya kapasitas SDM kita dibandingkan dengan negara lain merupakan tolok ukur yang pas untuk menilai seberapa besar kualitas SDM negeri ini. Sangat disayangkan, mengingat secara kuantitas Indonesia menempati urutan keempat negara berpenduduk terbesar di dunia. Kenyataan yang timpang dari segi kualitas dan kuantitas ini tentu tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.

Selama ini, kita bisa melihat bahwa pembangunan di Indonesia lebih besar bertumpu pada aspek Sumber daya alam (SDA) yang telah dimiliki sejak bangsa ini lahir. Adapun sektor SDM tidak mampu berperan secara maksimal. Selama 32 tahun bangsa Indonesia cukup maju dalam pembangunan di berbagai daerah karena kekayaan alam yang dimiliki. Namun begitu krisis 1998 menghantam, kita tersadar bahwa kekayaan SDA dan arus modal asing saja tidak cukup untuk membangun kembali bangsa yang telah porak-poranda ini. Indonesia butuh kualitas SDM yang mumpuni untuk menyokong SDA yang dimiliki agar kinerja pembangunan menjadi efektif dan efisien.

Masalah SDM yang saat ini dihadapi Indonesia paling sedikit meliputi dua hal. Pertama, jumlah angkatan kerja yang ada sangat tidak sebanding dengan jumlah kesempatan kerja. Dalam hal kuantitas, kelihatannya memang demikian adanya. Namun jika ditelusuri lebih jauh, rupanya lagi-lagi masalah kualitas mulai merambah pada masalah SDM yang Indonesia miliki. Sering dijumpai keluhan masih kurangnya tenaga kerja yang dibutuhkan, terutama tenaga kerja dengan kualifikasi yang berketerampilan tinggi. Keluhan seperti ini kemudian merembet pada terbatasnya tenaga kerja yang siap pakai sehingga disadari atau tidak, semakin memperparah rasio jumlah angkatan kerja dengan kesempatan kerja yang ada.

Persoalan kedua yang mudah teridentifikasi ialah tingkat pendidikan angkatan kerja penduduk Indonesia yang ada masih relatif rendah. Struktur pendidikan angkatan kerja Indonesia masih didominasi pendidikan dasar. Anehnya, jumlah penganggur yang berlatar belakang pendidikan perguruan tinggi juga tidak sedikit. Artinya, banyak lahan pekerjaan yang seharusnya diisi oleh orang-orang dengan keahlian tertentu tidak diisi oleh mereka yang memang ahli di bidang tersebut. Kompetensi dan skill yang dimiliki oleh masing-masing orang pada faktanya masih dengan mudah dialihkan pada pekerjaan yang tidak sesuai dengan konsentrasi pendidikan yang telah diambil.

Dengan membaca permasalahan tersebut, maka perlu dicari solusi yang tepat agar kualitas SDM yang Indonesia miliki tidak hanya berdaya guna tetapi juga tepat guna. Pendidikan yang berbasis pada teori kiranya perlu dilanjutkan pada pendidikan yang berbasis pada problem solving secara terpadu. Selain itu, perlu juga kerjasama antara pemerintah dan sektor swasta dalam mengembangkan pendidikan sejak dini dan menempatkan SDM-SDM yang ada pada lahan kerja yang sesuai.

Pemerintah seyogyanya harus bisa membaca posisi Indonesia saat ini. Sudah jelas, Indonesia telah melalui era pertanian dan industri. Kini kita sudah masuk pada era baru yang bernama globalisasi dimana jarak antar negara yang begitu jauh menjadi sangat dekat dengan meningkatnya arus perdagangan antar negara yang dipacu dengan kemajuan teknologi. Untuk itulah, SDM kita tidak hanya harus bisa bekerja sama dengan SDM asing, tetapi juga bersaing dengan mereka agar tidak kalah berkompetisi di kandang sendiri.

Hifdzi Ulil Azmi
Mahasiswa Farmasi UI