Arsip Blog

Paku dan amarah

Suatu ketika ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantung paku dan mengatakan padanya untuk menancapkan satu paku di pagar kayu belakang rumah mereka setiap kali ia marah.

Baru satu hari saja paku yang tertancap sudah berjumlah 48 buah. Selama beberapa hari berselang paku itu kian bertambah jumlahnya dan ia tak menyadari hal itu.

Suatu hari menjelang senja, ia ke belakang rumahnya dan menghitung jumlah paku yang sudah tertanam di pagar kayu. Waww! Ia tertegun sejenak. Kenapa jumlahnya banyak sekali ya? tanyanya dalam hati.

Lalu secara bertahap paku yang ditancapkan berkurang. Anak itu tersenyum. Ia mendapati ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memaku sebuah paku ke pagar kayu.

Akhirnya tibalah hari di mana anak itu bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Ia berlari untuk menemui ayahnya dan menceritakan hal itu.

”Ayah, betapa aku senang sekali hari ini karena tak satupun paku kutancap di pagar kayu,” ujarnya dengan wajah sedikit merona.

”Benarkah?!”

”Benar, Ayah.”

”Hmm, bagus dong. Tapi…. bagaimana dengan besok ya?”

”Ah, Ayah! Aku akan berusaha untuk tidak marah. Aku berjanji, Ayah. Lagi pula tanganku capek memukul-mukul palu,” ujar sang anak sambil memperlihatkan tangannya.

”Ayah percaya janji anak ayah.”

”Terima kasih, Ayah.”  Ia menghampiri ayahnya dan memeluknya.

”Kembali kasih, Nak.”

Ayahnya tersenyum sambil mengusap lembut kepala anaknya. Kemudian ayahnya mengusulkan untuk mencabut satu paku setiap hari di mana dia tidak marah.

Hari-hari pun berlalu dan anak laki-laki itu memberi tahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Kemudian sang ayah menuntun anaknya ke pagar kayu belakang rumah mereka.

“Hmm, kamu telah berhasil dengan baik, anakku,” ujar sang ayah. “Tapi lihatlah lubang-lubang ini! Pagar ini tidak akan sama seperti sebelumnya.”

”Kenapa, Ayah?”

Sang ayah menatap anaknya dengan penuh sayang. ”Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan, kata-katamu akan meninggalkan bekas seperti pada lubang ini… di hati orang lain,“ jawab ayahnya. Ia berhenti sejenak untuk melihat wajah polos anaknya.

”Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang dan mencabutnya kembali tetapi tidak peduli berapa kali kamu meminta maaf, luka itu akan tetap ada dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik.”

E-Book motivasi, keeboo groups

Ir. Andi Muzaki, SH, MT.