Monthly Archives: Mei 2019

Pembangunan Daerah 3T Korindo dan relevansinya dengan Program Pemerintah

Pemerataan pembangunan di wilayah Indonesia sampai saat ini masih menjadi perhatian pemerintah. Ketersediaan infrastruktur antara Pulau Jawa dengan selain Jawa, utamanya di wilayah timur Indonesia, masih dirasa cukup timpang. Persoalan ini tentu tidak sederhana. Jika tidak ditangani dengan baik, migrasi ke Pulau Jawa dengan penghidupan yang serba ada semakin tak terbendung. Daerah pinggiran yang tertinggal bisa makin terbelakang.

Dari aspek sosiologis, kecemburuan sosial antara daerah tidak dapat dihindarkan. Dampak yang mungkin muncul, rasa sebangsa setanah air perlahan dapat memudar karena perasaan kurang diperhatikan negara. Terburuk, hal ini bisa memicu pergerakan di daerah untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pemerataan pembangunan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia yang berkeadilan butuh biaya besar. Untuk memajukan wilayah yang tertinggal, butuh ketersediaan sumber daya yang tidak sedikit. Hal ini sangat beralasan karena harus dibangun dari kondisi yang serba minimal, bahkan serba tidak ada. Dengan cukup banyaknya wilayah tertinggal di Indonesia, sulit rasanya jika hanya mengandalkan anggaran yang dimiliki negara, sementara pos anggaran untuk operasional suatu negara bukan hanya untuk pembangunan di wilayah tertinggal.

Pembangunan 3T oleh Korindo

Pembangunan wilayah tertinggal sejatinya tidak dapat lepas dari tanggung jawab pemerintah. Namun, jika yang dikehendaki adalah percepatan pembangunan, mengandalkan pemerintah saja tidak cukup. Percepatan pembangunan akan lebih mudah terlaksana dengan memanfaatkan pihak swasta yang turut berinvestasi di daerah tertinggal. Dengan demikian, percepatan pembangunan daerah tertinggal dapat direalisasikan dan membantu program pemerataan pemerintah.

Contoh konkret keberhasilan upaya yang mendorong percepatan pembangunan daerah tertinggal oleh pihak swasta adalah pembangunan yang dilakukan oleh Korindo Group. Konsep membangun dari pinggiran telah dilakukan Korindo Group sejak tahun 1969 silam, saat berdirinya perusahaan ini. Sejak saat itu, dibuka lapangan pekerjaan baru serta sentra-sentra ekonomi di beberapa wilayah yang mampu mempercepat lajunya roda perekonomian di wilayah pinggiran sekitar daerah operasional perusahaan dan anak perusahaan.

Korindo Group merupakan perusahaan yang memiliki beberapa beberapa macam unit bisnis. Pada awalnya berdirinya memiliki fokus bisnis pengembangan hardwood yang kemudian beralih ke plywood/veneer pada tahun 1979, dilanjutkan dengan kertas daur ulang dan kertas koran pada tahun 1984, perkebunan kayu di tahun 1993, dan terakhir perkebunan kelapa sawit di tahun 1995. Unit operasional terbesar berada di Kecamatan Boven Digoel, Papua, yang merupakan wilayah pinggiran dan berbatasan dengan Papua Nugini.

Beberapa daerah pinggiran yang dahulunya tertinggal seperti Pangkalan Bun, Halmahera, Merauke dan Boven Digoel Papua merupakan contoh daerah yang kini cukup pesat perkembangannya. Berbagai infrastruktur seperti Sekolah, klinik, pasar, akses jalan raya, tempat ibadah, fasilitas umum dan sosial telah dapat disaksikan oleh setiap pendatang yang berkunjung kesana. Perekonomian di daerah-daerah ini pun turut mengalami peningkatan cukup signifikan dengan berbagai pembangunan yang ada.

Infrastruktur di asiki

Hasil pembangunan rumah ibadah dan sarana pendidikan di Asiki, Papua

Pemerintah melalui Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) telah merancang program untuk mengembangkan daerah perbatasan Indonesia menjelang berakhirnya Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2014-2019. Program yang masuk ke perbatasan Indonesia tersebut diantaranya yakni penyediaan akses infrastruktur jalan, pengembangan sarana dan prasarana termasuk di dalamnya penyediaan air bersih, serta pengembangan produk unggulan daerah perbatasan. Kemajuan pembangunan wilayah tertinggal ke depan akan diukur melalui program tersebut.

Pembangunan daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal) yang dilakukan Korindo telah sinergis dengan program Kemendes PDTT. Penyediaan akses infrastruktur jalan, pengembangan sarana dan prasarana, pengembangan produk unggulan daerah perbatasan, telah dilaksanakan Korindo di wilayah 3T yang juga menjadi tempat perusahaan ini beroperasi.

Pembangunan akses infrastruktur Jalan

Sebagai wilayah yang berposisi di perbatasan, jalan merupakan infrastruktur yang memiliki peran vital bagi keberlangsungan hidup masyarakat. Adanya jalan yang layak akan membuat jalur distribusi barang antar wilayah dapat mencapai daerah pinggiran. Hal ini secara langsung dapat menunjang aktivitas perekonomian di wilayah pinggiran.

Dalam perkembangannya, Korindo telah cukup banyak memperbaiki akses jalan di wilayah sekitar dimana anak perusahaan Korindo berada. Terbaru, Korindo membangun jembatan kali Totora di Papua yang sebelumnya hanya berupa jembatan kayu. Adanya jembatan ini membuat masyarakat kini tidak lagi merasa cemas melintasi jembatan tersebut sekaligus menjadikan aktifitas perekonomian rakyat dapat berjalan dengan aman dan lebih hidup.

Selain itu, KORINDO Grup pada 2017 juga melakukan pembangunan jalan sepanjang 15.62 kilometer di kecamatan Arut Utara, Kotawaringin Barat, kalimantan Tengah. Jalan tersebut dibangun melalui tiga desa, yakni mulai Desa Pandau, Riam, dan Panahan.

Pengembangan sarana dan prasarana

Klinik Asiki yang berdiri di atas lahan seluas 2929 m2 di kampung Asiki, kawasan pedalaman Papua di wilayah perbatasan Indonesia dan Negara Papua Nugini merupakan contoh kesuksesan Korindo dalam membangun sarana prasarana yang dibutuhkan masyarakat yang mendiami wilayah pinggiran. Segala tindakan dan pengobatan dipersembahkan secara gratis bagi penduduk papua, utamanya kalangan tidak mampu sebagai upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat setempat.

Klinik ini memiliki fasilitas cukup lengkap seperti ruang rawat jalan, rawat inap, ruang bersalin, perawatan bayi/perinatologi, IGD, ruang bedah minor, USG, farmasi, dan fasilitas lainnya hingga penyediaan kendaraan ambulans. Dengan pelayanan yang cukup memadai, kemampuan menangani kasus-kasus yang sebenarnya tidak perlu dirujuk ke rumah sakit serta adanya program pengelolaan penyakit kronis seperti diabetes mellitus dan hipertensi, klinik ini telah dinobatkan menjadi klinik yang terbaik se-Papua dan Papua barat melalui penghargaan Best Performance kategori klinik Pratama. Suatu prestasi yang membanggakan, klinik terbaik berdiri di wilayah perbatasan yang dulu merupakan daerah tertinggal.

klinik-terbaik-papua

Klinik Asiki, Klinik terbaik di Papua yang didirikan oleh Korindo

Selain sarana kesehatan, Korindo juga membangun berbagai fasilitas umum yang menunjang peningkatan kearifan dan SDM masyarakat lokal, diantaranya pembangunan tempat ibadah masjid dan gereja dan sarana pendidikan di Boven digoel Papua. Pasar modern juga didirikan untuk menggeliatkan aktivitas perekonomian antar desa. Pembangunan fasilitas sekolah

Pengembangan produk unggulan

Korindo group banyak melakukan program-program pemberdayaan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar perusahaan. Melalui Divisi Perkebunan Kelapa Sawitnya di Papua, Korindo bersama masyarakat lokal di Kampung Aiwat, distrik subur, Kab Boven Digoel memanfaatkan lahan kosong menjadi kebun budidaya sayur-mayur. Penanaman dan budidaya sayuran diprakarsai Korindo berupa pemberian pelatihan kepada masyarakat lokal mengenai bercocok tanam sayuran yang baik sejak April 2018 disertai pemberian bantuan bibit dan alat-alat bercocok tanam berupa cangkul, sekop, dodos, plastik bibit tanaman, dan alat semprot Kini, hasil budidaya sayur masyarakat lokal telah menyebar di beberapa wilayah selain kampung Aiwat.

Petani Korindo.jpg

Kegiatan bercocok tanam masyarakat di Boven Digoel

Program tersebut telah mendorong masyarakat lokal untuk lebih produktif secara mandiri. Hal ini sangat bermanfaat bagi penduduk lokal yang semula hanya dapat mengambil sumber pangan dari hutan dan melalui berburu hewan. Dengan adanya penambahan kemampuan bercocok tanam, ketahanan pangan di masyarakat menjadi lebih terjamin disertai asupan nutrisi yang mencukupi.

Korindo di Papua juga telah memberikan pelatihan usaha dengan menanam 150.600 pohon karet, 3.000 tanaman sagu bagi masyarakat Asli Papua, budi daya ayam potong dan ayam petelur, cetak batu merah, kebun plasma dan koperasi. Keberadaan Korindo terhadap masyarakat sekitar turut membangun kemandirian ekonomi rakyat lokal sehingga dapat memajukan wilayahnya sendiri keluar dari zona tertinggal.

Di luar infrastruktur jalan, sarana prasarana dan pengembangan produk unggulan, masih banyak kontribusi yang dilakukan Korindo pada wilayah 3T. Setidaknya, Korindo telah banyak membuka lapangan kerja dengan mempekerjakan 10.000 orang yang mendiami daerah tertinggal.

Penghargaan

Upaya Korindo dalam pembangunan daerah 3T telah diakui keberhasilannya berupa beberapa penghargaan yang telah diraih. Pada tahun 2018 KORINDO mendapatkan penghargaan Padmamitra Award melalui salah satu unit bisnisnya yang ada di Papua, PT Tunas Sawa Erma (TSE) dalam kategori penanganan keterpencilan oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia. Penghargaan ini merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan oleh negara kepada dunia usaha atas kontribusi dan perhatiannya kepada kondisi sosial masyarakat.

Padmamitra-Award.jpg

Penghargaan Padmamitra award kepada anak perusahaan Korindo, PT. TSE

Tidak hanya itu, keberlanjutan pemeliharaan alam yang selama ini diusung telah mengantarkan Korindo memperoleh Ministry of Environment CSR Award 2013, bersama PT Tunas Sawaerma, BKPM Kotra CSR Excellence Award 2015, dan di tahun 2016 dari Pemerintah Propinsi Papua memperoleh penghargaan Korindo sebagai pelaksana CSR Terbaik di Papua.

Penutup

Kita tentu berharap percepatan pembangunan di wilayah NKRI dapat terwujud dengan baik dan dirasakan bersama. Salah satunya dengan mendorong pihak swasta berinvestasi dan membangun unit operasional di wilayah Terluar, Terdepan dan Tertinggal. Dengan komitmen yang kuat dan didasari keharmonisan dengan alam dan masyarakat sekitar, pembangunan daerah 3T akan dapat terlaksana sebegaimana yang telah dilakukan KORINDO Group. Semakin banyak pihak swasta yang berinvestasi di wilayah tertinggal, niscaya pemerataan pembangunan untuk Indonesia berkeadilan dapat diwujudkan, demi Perubahan Untuk Indonesia yang Lebih Baik.

KORINDO, Bangun Perbatasan Jadi Terasnya Indonesia

Inilah Ayahmu…

Inilah Ayahmu

Tulisan di atas merupakan penggalan awal dari Surat yang dibuat dalam rangka Lomba Surat Cinta untuk si Kecil, penyelenggara Cussons dan Indomaret.

Masuk ke dalam 10 besar dengan hadiah Samsung Galaxy Note 9. selengkapnya di :   www.indomaret.co.id/cussonsfair 

pemenang cussonsfair

Daftar pemenang Cussonsfair Lomba menulis surat cinta untuk si kecil

Dede Luthfi dengan hadiah barunya

Dede Luthfi dengan Hadiah barunya