Monthly Archives: Agustus 2010

ILMU, KAWAT dan STOP KONTAK

Ada dua anak kecil berusia  4 tahun. Keduanya diminta untuk memasukkan seutas kawat ke dalam stop kontak. Anak pertama mau-mau saja memasukkan kawat itu ke dalamnya. Namun segera oleh tentornya langsung dicegah. Adapun anak kedua tidak mau memasukkan kawat tersebut ke dalam stop kontak.

Kejadian di atas mungkin pernah kita jumpai. Bagi yang sudah memiliki anak kecil, anda tentu tahu bahwa rasa keingintahuannya begitu besar. Begitu melihat ada lubang stop kontak yang menurut mereka aneh, unik, atau apalah, sontak ia menjadi usil hingga rasanya ingin memasukkan sesuatu ke dalamnya.

Kedua anak tersebut memang sama-sama berusia 4 tahun, namun pola pikirnya sudah berbeda. Anak pertama mau-mau saja memasukkan kawat ke dalam stop kontak yang bisa menyebabkan ia tersetrum. Anak kedua menolak mentah-mentah melakukan hal itu. Mengapa? Karena ia sudah pernah melakukan hal tersebut secara tidak sengaja. Ia pernah merasakan pahitnya tersetrum walau hanya sesaat. Maka spontan anak kedua ini enggan jika diminta melakukannya lagi.

Ada hikmah yang bisa diambil dari fenomena unik tersebut. Pertama, Ilmu tidak hanya bisa didapat melalui materi di kelas. Ilmu di dunia ini begitu luas, terlalu banyak ilmu-ilmu lain yang tidak diajarkan di dalam kelas dari tingkat TK hingga bangku perguruan tinggi namun banyak didapat dari pengalaman. Maka jangan heran tidak sedikit orang yang ber-IQ tinggi namun karena jarang turun ke lapangan, ilmunya seolah menjadi tidak dihargai. Ilmunya laksana poHon yang tak kunjung berbuah. Ilmunya hanya untuk dirinya sendiri hingga tak bisa dijadikan sebuah amalan kebaikan.

Kedua, Ilmu itu mahal, bahkan bisa menjadi tak terbeli oleh uang sebanyak apapun. Mengapa demikian? Jika kita yang sudah dewasa misalnya disuruh untuk memasukkan kawat yang basah ke dalam stop kontak, tanpa menggunakan alas kaki yang terbuat dari karet sebagai peredam tegangan, apa yang akan kita lakukan?? Mau?? Tentu tidak! Mau dikasih uang pun juga kita takkan mau karena bahaya yang akan ditanggung. Tapi kalau orang dewasa yang tak berilmu, seperti orang dari pedalaman yang tak mengenal listrik misalnya, ia akan mau-mau saja memasukkan kawat basah ke dalam stop kontak dengan imbalan sekian milyar. Inilah orang tak berilmu, salah-salah nyawanya bisa melayang kendati mendapatkan uang banyak.

Begitulah ilmu. Melalui contoh kecil di atas semoga kita tersadar bahwa ilmu itu begitu penting. Ia bisa didapat melalui pengalaman dengan nilai yang sangat mahal. Ia seperti pelita yang menerangi hidup kita agar pijakan kaki kita di dunia ini tidak salah dalam melangkah. Ia ibarat mesin pengontrol diri kita agar tidak terjerembab ke dalam jurang yang nista dan menyia-nyiakan. Ia laksana angin yang mampu membawa serbuk sari jatuh di atas kepala putik hingga menghasilkan bunga yang indah dan buah yang ranum hingga dapat dinikmati oleh makhluk hidup di sekitarnya. Semoga kita bisa menghargai ilmu dan senantiasa semangat untuk mencari ilmu, kapanpun, dimanapun, dan dalam kondisi bagaimanapun.

Hifdzi Ulil Azmi

Pilihan untuk hidup

Diceritakan terdapat dua benih tanaman,yaitu benih A dan B

Suatu hari mereka ingin di tanam di tanah yang gersang,keras dengan musim hujan yang masih lama datangnya.

benih A langsung mengambil inisiatif,jika nanti aku ditanam aku akan menancapkan akar-akarku terus ke dalam kegelapan,kujalarkan jauh akarku ke setiap sisi  untuk bisa   mendapatkan air dan makanan yang banyak,

Agar nantinya tumbuh batang yang bisa terus ke atas,dengan daun-daun yang rindang dan Indah,sehingga akhirnya aku bisa memberikan buah-buah yang banyak,berguna bagi manusia atau hewan yang menginginkannya.

Akhirnya apa yang diinginkan pun terlaksana,benih A mendapatkan apa yang diinginkan, ia tumbuh subur,indah dan berguna bagi semua makhluk hidup di sekelilingnya.

Lain halnya dengan benih B,ia tak mau tumbuh,untuk menancapkan akarnya terus ke dalam,karena ia pikir tanahnya terlalu keras dan gelap,suatu kebodohan jika ia melakukannya,dan jika nantinya ia tumbuh di tanah yang gersang pastilah setiap pucuk yang tumbuh akan dimakan oleh hewan, keluhnya,terlebih lagi ini masih musim kemarau,untuk apa bersusah payah melakukan itu semua.

Suatu hari ada seekor ayam mengais-ngais di tempat benih B di tanam,tanpa ragu ayam itu memakannya.

Hidup penuh dengan pilihan,pasti ada resiko dari setiap pilihan yang kita ambil,cuma yang menjadi masalah,seringkali orang takut untuk melakukan suatu keputusan,karena beban,resiko,harapan dan cita-cita di masa depan yang belum pasti .

Hidup memang penuh dengan pilihan,tapi jangan sampai beban,resiko,harapan dan cita-cita yang belum pasti tersebut ,menghambat kita untuk mengambil keputusan.

sumber :

ebook motivasi.net

Kutipan : KUPU-KUPU

ia tidak akan pernah tau warna dan corak sayap mliknya, tapi makhluk lain yg melihatnya tau betul betapa indah sayap yang ada padanya.. Sehingga ia tak sadar kalau ia sedang diperhatikan..

Jika saya ingin melihat indahnya kupu-kupu, maka saya juga harus berani melihat jijiknya ulat

Seperti kupu-kupu.. SeMakin dikejar, semakin menjauh .. maka biarkan saja ia terbang kesana kemari…

Marhaban Yaa Ramadhan (Haddad Alwi ft. Anti)

Marhaban Ya Ramadhan Ya Syahrul Syiam3x

Selamat datang Ramadhan, bulan penuh ampunan
Selamat datang Ramadhan, bulan penuh ganjaran

Mari kita menyambut dengan hati gembira
Mari kita menyambut dengan hati bahagia

Marhaban Ya Ramadhan Ya Syahrul Syiam
Marhaban Ya Ramadhan Ya Syahrul Syiam

Allah jadikan Ramadhan bulan penuh berkah
Allah jadikan Ramadhan bulan penuh rahmah

Perbanyaklah ibadah, jangan lupa sedekah
Perbanyaklah tadarus, jangan lupa shalawat

Marhaban Ya Ramadhan Ya Syahrul Syiam
Marhaban Ya Ramadhan Ya Syahrul Syiam

Selamat datang bulan yang siang harinya mulia
Selamat datang bulan yang malamnyapun mulia
Nafas dan tidur kitapun mendapat pahala
Dosapun diampuni doapun diterima

Marhaban Ya Ramadhan Ya Syahrul Syiam
Marhaban Ya Ramadhan Ya Syahrul Syiam

Marhaban Ya Ramadhan Ya Syahrul Syiam
Marhaban Ya Ramadhan Ya Syahrul Syiam

Marhaban Ya Ramadhan Ya Syahrul Syiam
Marhaban Ya Ramadhan Ya Syahrul Syiam

Marhaban Ya Ramadhan Ya Syahrul Syiam
Marhaban Ya Ramadhan Ya Syahrul Syiam

Download mp3 Marhaban Yaa Ramadhan disini

Rindu Muhammadku (Haddad Alwi-Anti Vita-Ebith Beat A)

Demi cintaMu ya Allah
Pada Muhammad nabiMu
Ampuni dosaku
Wujudkan harapanku
Ya Rasullallah
Siapa yang cinta pada nabinya
Pasti bahagia dalam hidupnya

Reff:
Muhammadku Muhammadku dengarlah seruanku
Aku rindu aku rindu kepadamu Muhammadku
Kau yang mengaku cinta kepada nabimu
Kau yang mengaku merindukan nabimu
Jika kau benar-benar cinta dan rindu kepada Muhammad nabimu

Buktikan
Taati perintahNya, tinggalkan laranganNya
Teladani akhlaknya
Niscaya kelak kau akan berjumpa dengan Rasullallah
Niscaya kelak kau akan berkumpul dengan Rasullallah

Back to Reff

Kau ajarkan hidup ini untuk saling mengasihi
Ku tanamkan dalam hati kuamalkan sejak dini
Engkaulah nabi pembawa cinta
Kau bimbing kami menjuju surga

Back to Reff

Download mp3 Rindu Muhammadku disini

Curhatan @ Silaturahim CT MII 2009

Masa2 yang indah

masa2 berjuang untuk kebaikan

masa2 yang takkan kulupakan

masa2 yang penuh dengan sekelumit beban berat dengan amanah yang dipanggul ini .. jika tak kuat bisa merubuhkan pundak.. bukan amanah biasa..

Tapi saya bahagia, saya mendapat hidayah

bertemu dengan orang2 shaleh d sekitar saya

yang mengingatkan saya apa itu arti keimanan, kebenaran, perjuangan, dan Mahabbatullah .. Jauh di atas sekedar kepentingan akademis belaka

Maka,

Kenanglah masa2 itu, masa2 dimana kamu sempat menjadi orang baik bersama orang2 yang baik

Maka, tatkala kamu bertabiat buruk, ingatlah masa2 itu .. kamu pernah berjuang untuk kebaikan bersama orang2 yang dibukakan mata hatinya untuk beramar maruf nahi munkar]

Maka tatkala kamu lupa kepada Alloh, ingatlah bahwa kamu dulu sempat ingat kepada-Nya dalam pagi petang dan malam, bersama orang2 yang diingatkan hatinya ke hadirat-Nya

Maka ketika kamu mencintai sesuatu, ingatlah dulu kamu pernah bersama-sama membangun kecintaan dalam bingkai ketaatan kepadaNya bersama orang-orang yang dicintai-Nya

Yaa Rabb, saya hanyalah makhluk yang lemah, bergelimang dosa, sedikit amal, banyak membual yang kadang tanpa disertai tindakan amal nyata

Yaa Rabb, janganlah engkau cabut hidayah ini … Janganlah engkau mematikan kami dalam keadaan tak beriman kepadaMu..

Yaa Rabb, hanya kepada Engkaulah tempat kembali, hanya kepada Engkaulah tempat meminta ..

Bekasi, 8 Agustus 2010

Hifdzi Ulil Azmi

Core Team Departemen Ilmi (Keilmuan) BO Musholla Izzatul Islam (MII) FMIPA UI 2009

Kisah Lili

Dulu sekali di negeri Cina, hiduplah seorang gadis bernama Li-Li yang menikah dan tinggal di wisma mertua indah. Dalam tempo singkat, Li-Li tahu bahwa ia tidak cocok sama sekali dengan ibu mertuanya. Karakter mereka jauh berbeda, dan Li-Li sangat berang terhadap banyak kebiasaan ibu mertuanya. Juga, mertuanya itu terus menerus mengritiknya.
Hari berganti hari, begitu pula bulan berganti bulan. Li-Li dan ibu mertuanya tidak pernah berhenti berdebat dan bertengkar. Yang memperburuk suasana ialah adat kuno Cina di mana Li-Li dituntut harus selalu menundukkan kepala untuk menghormati mertuanya dan mentaati semua kemauannya. Semua kemarahan dan ketidakbahagiaan di dalam rumah itu menyebabkan kesedihan yang mendalam pada hati suami Li-Li, seorang yang berjiwa sangat sederhana.


Akhirnya, Li-Li tidak bisa tahan lagi terhadap sifat buruk dan kesewenang-wenangan ibu mertuanya, dan ia benar-benar telah bertekad untuk melakukan sesuatu. Li-Li pergi menjumpai seorang teman ayahnya yaitu tuan Wang yang mempunyai Toko Obat Cina. Ia menceritakan situasinya dan minta diberikan ramuan racun untuk dapat menuntaskan masalahnya dalam sekali pukul. Sinshe Wang berpikir keras sejenak dan akhirnya berkata: “Li-Li saya mau membantu kamu menyelesaikan masalahmu, tetapi kamu harus mendengarkan saya dan mentaati apa yang saya sarankan.” Li-Li berkata, “OK pak Wang, saya akan mengikuti apa saja yang bapak katakan yang harus saya perbuat.”
Sinshe Wang masuk ke ruang belakang, dan kembali beberapa menit kemudian dengan sebungkus ramuan obat. Ia berkata kepada Li-Li, “Kamu tidak bisa memakai racun keras yang mematikan seketika untuk meyingkirkan ibu mertuamu, karena hal itu akan membuat semua orang menjadi curiga. Oleh karena itu, saya memberi kamu ramuan beberapa jenis tanaman obat yang secara perlahan-lahan akan menjadi racun di dalam tubuhnya. Setiap hari sediakan makanan yang enak-enak dan masukkan sedikit ramuan obat ini ke dalamnya. Maka, supaya tidak ada yang curiga saat ia mati nanti, kamu harus hati-hati sekali dan bersikap sangat bersahabat dengannya. Jangan berdebat dengannya, taati semua kehendaknya, dan perlakukan dia seperti seorang ratu.”


Li-Li sangat bahagia. Ia berterima kasih kepada tuan Huang dan buru-buru pulang ke rumah untuk memulai rencananya untuk membunuh ibu mertuanya. Minggu demi minggu, bulan demi bulan telah lewat, dan setiap hari Li-Li melayani mertuanya dengan makanan yang sudah “dibumbuinya”. Ia mengingat semua petunjuk tuan Wang tentang hal mencegah kecurigaan, maka mengendalikan amarahnya, mentaati ibu mertuanya dan memperlakukannya seperti ibunya sendiri.


Setelah enam bulan lewat, suasana di dalam keluarga itu berubah secara drastis. Li-Li sudah mampu mempraktekkan pengendalian amarahnya sedemikian rupa sehingga ia menemukan dirinya tidak pernah lagi marah atau kesal. Ia tidak pernah berdebat dengan ibu mertuanya selama enam bulan terakhir karena ia menemukan bahwa ibu mertuanya kini tampaknya lebih ramah dan lebih mudah untuk diajak hidup bersama. Sikap ibu mertua terhadap Li-Li telah berubah, dan ia mulai mencintai Li-Li seperti puterinya sendiri. Ia terus menceritakan kepada kawan-kawan dan sanak familinya bahwa Li-Li adalah menantu yang paling baik yang mungkin ia peroleh. Li-Li dan mertuanya saling memperlakukan satu sama lain seperti layaknya seorang ibu dan anak yang sesungguhnya.


Suami Li-Li sangat bahagia menyaksikan semua yang terjadi ini. Suatu hari, Li-Li pergi menjumpai sinshe Wang dan meminta bantuannya sekali lagi. Ia berkata, “Pak Wang yang baik, tolong saya untuk mencegah supaya racun yang saya berikan kepada ibu mertua saya jangan sampai membunuhnya! Ia telah berubah menjadi seorang wanita yang begitu baik, sehingga saya mencintainya seperti kepada ibu saya sendiri. Saya tidak mau ia sampai mati karena racun yang pernah saya berikan kepadanya.”


Tuan Wang tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Li-Li tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Saya tidak pernah memberi kamu racun. Ramuan yang saya berikan kepadamu itu hanyalah ramuan penguat badan untuk memperbaiki kondisi kesehatan beliau. Satu-satunya racun yang ada ialah yang terdapat di dalam pikiranmu sendiri dan di dalam sikapmu terhadapnya, tetapi semuanya itu telah disapu bersih dengan cinta yang kamu berikan kepadanya.”

* * * * *

sumber :

database presentasi materi islam @ komputer Musholla Izzatul Islam (MII) FMIPA UI


Paku dan amarah

Suatu ketika ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantung paku dan mengatakan padanya untuk menancapkan satu paku di pagar kayu belakang rumah mereka setiap kali ia marah.

Baru satu hari saja paku yang tertancap sudah berjumlah 48 buah. Selama beberapa hari berselang paku itu kian bertambah jumlahnya dan ia tak menyadari hal itu.

Suatu hari menjelang senja, ia ke belakang rumahnya dan menghitung jumlah paku yang sudah tertanam di pagar kayu. Waww! Ia tertegun sejenak. Kenapa jumlahnya banyak sekali ya? tanyanya dalam hati.

Lalu secara bertahap paku yang ditancapkan berkurang. Anak itu tersenyum. Ia mendapati ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memaku sebuah paku ke pagar kayu.

Akhirnya tibalah hari di mana anak itu bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Ia berlari untuk menemui ayahnya dan menceritakan hal itu.

”Ayah, betapa aku senang sekali hari ini karena tak satupun paku kutancap di pagar kayu,” ujarnya dengan wajah sedikit merona.

”Benarkah?!”

”Benar, Ayah.”

”Hmm, bagus dong. Tapi…. bagaimana dengan besok ya?”

”Ah, Ayah! Aku akan berusaha untuk tidak marah. Aku berjanji, Ayah. Lagi pula tanganku capek memukul-mukul palu,” ujar sang anak sambil memperlihatkan tangannya.

”Ayah percaya janji anak ayah.”

”Terima kasih, Ayah.”  Ia menghampiri ayahnya dan memeluknya.

”Kembali kasih, Nak.”

Ayahnya tersenyum sambil mengusap lembut kepala anaknya. Kemudian ayahnya mengusulkan untuk mencabut satu paku setiap hari di mana dia tidak marah.

Hari-hari pun berlalu dan anak laki-laki itu memberi tahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Kemudian sang ayah menuntun anaknya ke pagar kayu belakang rumah mereka.

“Hmm, kamu telah berhasil dengan baik, anakku,” ujar sang ayah. “Tapi lihatlah lubang-lubang ini! Pagar ini tidak akan sama seperti sebelumnya.”

”Kenapa, Ayah?”

Sang ayah menatap anaknya dengan penuh sayang. ”Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan, kata-katamu akan meninggalkan bekas seperti pada lubang ini… di hati orang lain,“ jawab ayahnya. Ia berhenti sejenak untuk melihat wajah polos anaknya.

”Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang dan mencabutnya kembali tetapi tidak peduli berapa kali kamu meminta maaf, luka itu akan tetap ada dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik.”

E-Book motivasi, keeboo groups

Ir. Andi Muzaki, SH, MT.

Hidup adalah Pilihan

Ada 2 buah bibit tanaman yang terhampar di sebuah ladang yang subur.
Bibit yang pertama berkata, “Aku ingin tumbuh besar. Aku ingin menjejakan akarku dalam-dalam di tanah ini dan menjulangkan tunas-tunasku di atas kerasnya tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari dan kelembutan embun pagi di pucuk-pucuk daunku.” Dan bibit itu tumbuh, makin menjulang.
Bibit yang kedua bergumam, “Aku takut. Jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini, aku tak tahu, apa yang akan kutemui di bawah sana. Bukankah di sana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku ke atas, bukankah nanti keindahan tunas-tunasku akan hilang? Tunasku itu pasti akan terkoyak. Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka dan siput-siput mencoba untuk memakannya? Dan pasti, jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak, akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman.” Dan bibit itupun menunggu, dalam kesendirian.
Beberapa pekan kemudian, seekor ayam mengais tanah itu, menemukan bibit yang kedua tadi, dan mencaploknya segera.

Hikmah :
Memang selalu aja ada pilihan dalam hidup. Selalu saja ada lakon-lakon yang harus kita jalani. Namun, seringkali kita berada dalam sikap pesimis, kengerian, keraguan, dan kebimbangan- kebimbangan yang kita ciptakan sendiri. Kita sering terbuai dengan alasan-alasan untuk tak mau melangkah, tak mau menatap hidup. Karena hidup adalah pilihan, maka pilihlah dengan bijak.
sumber :

E-Book motivasi, keeboo groups

Ir. Andi Muzaki, SH, MT.

Andai Qur’an Bisa Bicara, SAYA MALU …

Waktu engkau masih kanak-kanak, Bagiku kau laksana kawan sejati,
Dengan wudhu, Aku, kau sentuh…….. Dalam keadaan suci Aku kau pegang……….
Kau junjung…., kau pelajari….. Setiap hari…… aku, kau baca dengan suara lirih….
atau bahkan dengan lantangnya,
Dan seusainya, kau cium Aku dengan sepenuh mesra….
Kini, engkau telah dewasa, atau bahkan kian matang…….

Namun, nampaknya kini, engkau sudah tak berminat lagi padaku……
Barangkali….., menurutmu, Aku hanya bacaan usang
yang menjadi bagian sejarah kanak-kanakmu….
Aku, barangkali….., hanya bacaan yang menurutmu
tidak menambah pengetahuan dan wawasan sama sekali…….
Kini, Aku kau simpan….., sedemikian rapihnya…………..
Rapih….. sekali……
Hingga kadang engkau bahkan lupa….., di mana menyimpannya…..
Atau mungkin aku sudah kau anggap sekedar penghias rumah,
pelengkap koleksi buku-bukumu…..
Atau kadangkala….., aku kau jadikan mas kawin,
AGAR ENGKAU DIANGGAP BERTAQWA…!!!
Atau aku kau buat penangkal bencana, untuk menakuti hantu, setan, tuyul, jin
dan sebangsanya…..

Kini aku tersingkir……
Sendiri…..
Kesepian…..
Di atas, atau di dalam lemari, di dalam laci….,
di sudut-sudut ruang…… Kau acuhkan Aku……

Dulu….. pagi-pagi sekali……
Surat-surat yang ada padaku engkau baca beberapa halaman….
Sorenya…, kembali kau baca aku, ramai-ramai,
dengan teman-temanmu di surau…..
Kini…..,pagi-pagi…..,
Engkau membaca koran pagi, atau menonton berita di TV….,
sambil minum kopi…..
Di waktu senggang…..
Kau sempatkan membaca buku karangan manusia……,
yang sesekali kau bahas dan jadikan topik
perbincangan dengan kolega-kolegamu….

Sementara aku……

Aku adalah rangkaian ayat-ayat Cinta dari Sang
Maha Pencipta…..
Namun, engkau sampai hati untuk mencampakkannya……,
mengabaikannya, melupakannnya………

Waktu berangkat kerjapun, kadang kau lupa untuk
sekedar membaca pembuka surat-suratku….
“Bismillahirrahmaanirrahiim”
Di perjalanan….
Engkau pun asyik menikmati musik-musik duniawi…
Tidak ada kaset yang berisi ayat-ayat Cinta dari Rabb-mu, di laci mobilmu….
Di meja kerjamu….
Tidak ada aku, untuk kau baca sebelum memulai kerja…,
dan pelipur penat batin di tengah-tengah kesibukan harimu…..
Email temanmu yang kau dahulukan….., sementara
aku tersiakan…
Engkau terlalu sibuk kini…..
Dengan segala urusan dunia yang melenakan…
Benarlah dugaanku, bahwa engkau kini sudah
benar-benar melupakanku……

Saat malam tiba…, engkau tahan duduk berjam-jam di depan TV,
untuk menyaksikan pertandingan liga Italia, liga inggris
sinetron, atau tayangan-tayangan komersial buatan manusia….
Membawa tugas-tugas kantor yang bertumpuk……
Bergadang hingga larut untuk
menyelesaikannya…………..
Engkau tahan duduk berjam-jam di depan komputer
untuk itu…….
Engkau tahan untuk yang lain….., namun kau
sisakan kantuk dan letih untukku…….

Waktu pun terus bergulir
Aku semakin terlihat kusam di tempatnya…..
Bersimbah debu, atau bahkan dimakan kutu……
Seingatku………..
Hanya sesekali kini kau sentuh aku…..
Di awal Ramadhan…., dan itupun hanya beberapa
lembar dariku saja yang sempat terbaca….
Bacaanmu pun tak lagi semerdu dulu….
Lafadzmu pun terasa kaku….
Engkau kini membacaku dengan terbata-bata……
Padahal…, setiap waktu yang mengalir….,
mengantarkanmu semakin cepat ke liang kubur……

Duhai…………
Apakah koran, TV, radio dan komputer, dapat
memberimu syafa’at…..,
saat engkau sendiri di dalam kubur, menanti
tibanya hari kiamat….?
Saat engkau diperiksa oleh para malaikat
pesuruhNYA…..?
Hanya ayat-ayat CintaNYA yang ada padaku, dapat
menyelamatkanmu…..
Seandainyalah kau baca aku selalu…….,
Kau resapi dan amalkan……., niscaya aku akan
datang menolongmu….
Sebagai pemuda gagah nan tampan…..
Aku akan membantumu membela diri…….
Bukan koran……, TV, radio atau apapun teknologi
buatan manusia…….
yang kau agungkan dan kau dewakan itu…..

Duhai sahabatku……
Peganglah aku lagi…….., bacalah aku lagi
setiap hari…..
Karena di dalamnya ada Lafadz-lafadz Cinta dari
PenciptaMu….
Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha
Mengetahui…….
Dari Sang Penguasa alam semesta……
Yang tersampaikan melalui kejadian-kejadian
mulia…, oleh Jibril kepada Muhammad SAW…..

Duhai sahabatku…..
Sentuhlah aku kembali…, seperti dulu……
Baca dan pelajarilah aku lagi……
Di setiap datangnya pagi dan petang……
Seperti dulu…..,
dulu sekali…….. di surau itu……
Jangan kau biarkan aku dalam sepi yang bisu…..
Karena aku ada……, untuk menuntun
jalanmu………
Akulah panduan hidup dari Sang Maha Hidup……..
Aku yang akan memberimu keindahan hidup sejati….
dunia-akhirat…….