INDONESIA DAN HARI LAHAN BASAH SEDUNIA

Mungkin tidak banyak orang yang tahu esensi tanggal 2 Februari, hari ini. Jika disebutkan tanggal 1 Januari, pikiran semua orang pasti akan tertuju pada perayaan tahun baru masehi yang begitu popular dan mendunia. Padahal jika kita cermati, perayaan tahun baru selalu menghasilkan dampak buruk bagi lingkungan sekitar. Setiap pagi hari tanggal 1 Januari, sampah berserakan di mana-mana. Tidak jarang, kali dan sungai yang berada di dekat pusat keramaian perayaan tahun baru menjadi bukti buruknya perayaan tahun baru akibat penuhnya kawasan berair ini dengan sampah yang membuat arus macet dan kotor. Inilah fenomena yang tidak mendukung esensi dari tanggal 2 Februari, hari ini.

Tanggal 2 Februari biasa diperingati sebagai hari lahan basah sedunia. Peringatan ini tidak lepas dari diadakannya konvensi Ramsar yang berlangsung di Iran. Nama Ramsar sendiri diambil dari nama kota tempat berlangsungnya konvensi tersebut pertama kali diadakan, yakni 2 Februari 1971. Konvensi dengan nama resmi The convention on Wetlands of International Importance especially as waterfowl Habitat ini mulai berlaku sejak 21 Desember 1975.

Istilah lahan basah mungkin hanya populer di kalangan pecinta lingkungan hidup, khususnya lingkungan pantai dan pesisir. Mungkin juga sebutan ini hanya dikenal di kalangan mahasiswa yang bergelut dengan ilmu lingkungan dan kelautan. Atau secara konotatif  istilah ini bahkan lebih dikenal sebagai tempat atau hal yang memudahkan seseorang untuk mendapatkan uang secara cepat dalam jumlah besar. Akan tetapi istilah ini sebenarnya telah dipopulerkan sejak tahun 1971 lalu, saat konvensi Ramsar berlangsung.

Dalam konvensi Ramsar, lahan basah dikenal sebagai daerah-daerah payau, paya, tanah gambut atau perairan, baik yang bersifat alami maupun buatan, tetap ataupun sementara, dengan perairannya yang tergenang ataupun mengalir, tawar, agak asin ataupun asin, termasuk daerah-daerah perairan laut yang kedalamannya tidak lebih dari enam meter pada waktu air surut.

Konvensi Ramsar diadakan dengan tujuan untuk mendukung upaya konservasi dan pemanfaatan lahan basah secara berkelanjutan. Hal ini didorong oleh penyusutan jumlah lahan basah dunia akibat dari  proses transformasi menjadi areal yang tidak semestinya.

Indonesia sendiri telah meratifikasi konvensi Ramsar melalui Keputusan Presiden RI No.48 tahun 1991. Dengan demikian, pemerintah patut memberikan komitmennya untuk melindungi dan mempromosikan lahan basah, sebagaimana yang tertuang dalam perjanjian tersebut. Hal ini secara lugas menuntut berbagai pihak untuk dapat memanfaatkan lahan basah secara bijaksana.

Konvensi Ramsar awalnya tidak serta merta membahas mengenai lahan basah. Pertemuan ini semula lebih fokus pada pembicaraan masalah burung air dan burung migran. Dalam konvensi tersebut, maka tercetuslah pengertian burung air (waterfowl) sebagai jenis burung yang secara ekologis keberadaannya bergantung pada lahan basah. Akhirnya, pembahasan kian meluas ke arah lahan basah yang disadari begitu potensial untuk dilindungi.

Sebagian besar burung air ialah jenis burung air migran. Burung air migran merupakan jenis burung air yang melakukan migrasi setiap musim atau tahunan secara rutin pada musim dingin dari belahan bumi utara ke belahan bumi selatan seperti Asia Tenggara, Australia, Afrika Selatan dan Amerika Selatan. Beberapa rute migrasi yang dilalui oleh beberapa jenis burung air tersebut adalah kepulauan Indonesia Tujuannya ialah untuk mencari habitat (tempat tinggal) sementara yang sesuai. (Alikondra, 1993).

Indonesia dengan garis pantainya yang mencapai 81.000 km merupakan tempat yang cocok sebagai tempat singgah sementara burung migran. Beberapa jenis burung air migran tiap tahunnya secara periodik memanfaatkan sebagian wilayah pesisir Indonesia sebagai habitat sementara. Beberapa habitat yang disukai burung air migran adalah daerah lahan basah, seperti daerah estuari (rawa payau), rawa, sungai dan sawah.

Namun, seiring dengan penurunan kuantitas dan kualitas daerah lahan basah di Indonesia, terutama akibat adanya pencemaran dan konversi lahan menyebabkan burung migran semakin sedikit jumlahnya. Daerah estuari dan rawa yang rusak tersebut telah mengakibatkan degradasi mutu produktivitas lahan, hingga kesempatan burung air migran untuk memperoleh energi yang sangat diperlukan untuk menempuh perjalanan panjang dalam bermigrasi menjadi berkurang

Perubahan tata guna lahan telah berakibat nyata terhadap kehidupan burung. Hutan hujan dataran rendah yang dahulunya merupakan habitat terbaik bagi burung, sekarang hanya tersisa 2,5 % dan menjadi habitat langka. Lingkungan hidup alami, seperti ekosistem mangrove, rawa, danau dan telaga yang merupakan habitat bagi kehidupan burung, saat ini sangatlah sulit didapatkan. (MacKinnon, 1995).

Inilah faktanya, jumlah lahan basah di Indonesia kian menyusut. Banyak areal lahan basah yang diubah menjadi tempat pemukiman, industry, dan lain sebagainya. Padahal,tanpa dilakukan transformasi, lahan basah sudah mengandung nilai ekonomis yang lumayan tinggi, disamping fungsi utamanya sebagai penyerap, pengatur, dan pendisribusi air secara alami.

Penyusutan luas lahan basah di Indonesia tak bisa dipandang remeh. Kawasan lahan basah terbukti menyimpan sejuta manfaat yang bisa diambil bagi kehidupan. Bukan cuma satwa dan tumbuhan, manusia pun bisa merasakannya. Jadi bisa dibayangkan berapa kerugian yang harus ditanggung bila lahan basah makin menyempit.

Masyarakat Indonesia banyak yang hidupnya bergantung pada lahan basah, karena danau, muara, hutan rawa, dan lahan basah lainnya menyediakan air, kayu, buah, padi, ikan, daging dan sagu. Ditambah lagi, bahan bangunan sederhana semisal nipah, nibung dan rotan juga didapat dari lahan basah. Selain itu, lahan basah juga merupakan sarana transportasi bagi penduduk sekitar.

Tumbuhan dan hewan banyak yang mendiami lahan basah. Hamparan lumpur, bakau, laguna dan lahan basah lainnya cukup kaya akan behan makanan, sehingga cocok sebagai tempat berkembang biak dan membesarkan anak bagi ribuan jenis ikan dan udang.

Kini baik secara sadar atau tidak, lahan basah mengalami kerusakan secara perlahan namun pasti. Hutan bakau alami di Indonesia telah mengalami penyusutan dari 4,25 juta hektar menjadi tinggal 2,5 juta hektar, danau alam diubah menjadi pemukiman. ditambah lagi limbah industri maupun rumah tangga yang mencemari sungai serta laut kita.

Sebagai negara yang memiliki kawasan lahan basah terluas di Asia sudah sepantasnyalah kita menaruh perhatian besar pada potensi lahan basah.  Sumber pangan utama bangsa Indonesia yaitu beras ditanam di lahan basah.   Berbagai sumberdaya lainnya seperti ikan, air bersih, obat-obatan, keanekaragaman hayati, dan jalur transportasi air terdapat di lahan basah. Tidak hanya itu, lahan basah dapat dimanfaatkan sebagai upaya menanggulangi banjir. Agar tetap bisa bermanfaat bagi umat manusia, kawasan lahan basah ini perlu kita pertahankan dan lestarikan.

dibuat : 29 Januari 2009

Posted on Juli 25, 2010, in Artikel saya and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: