Monthly Archives: September 2009

Pemuda mengapresiasi kesenian tradisional

Seputar Indonesia, Jum’at 28 Agustus 2009

Dalam suatu kesempatan, seniman Indonesia Butet Kertaredjasa pernah menuturkan, “Budayawan juga pejuang, yang memperjuangkan budayanya, untuk tidak direbut oleh negara tetangga. Maka dari itu, harus pintar.”

Kalimat yang keluar dari mulut beliau tersebut menurut beberapa kalangan mungkin dirasa berlebihan. Namun, pernyataan itu toh akhirnya benar-benar terbukti juga! Di saat banyak kasus klaim atas budaya tanah air oleh negara tetangga Malaysia, barulah kita terbakar amarah dan merasa cinta pada kebudayaan tradisional. Pada saat itulah kita sadar bahwa budayawan yang mungkin selama ini dianggap sebagai sosok yang biasa-biasa saja, akhirnya dianggap sebagai sosok yang penting bahkan vital dalam mempertahankan citra kebudayaan nasional. Harus diakui pula, bahwa budayawan akhirnya pantas disandingkan bak pejuang tanah air.

Pilu rasanya saat kebudayaan kita diklaim kepemilikannya oleh Malaysia. Tidak hanya satu, tetapi banyak yang diklaim. Tapi, jika menilik lebih dalam, tidak sedikit dari kita pun yang memang kurang apresiatif terhadap kesenian tradisional di Indonesia. Kalau begitu siapa yang salah? Malaysia jelas tetap bersalah! Adapun kita sebagai masyarakat Indonesia juga patut memperbaiki diri agar lebih apresiatif terhadap kebudayaan yang kita miliki.

Inilah yang sepatutnya menjadi suatu hal yang harus kita fikirkan bersama. Masyarakat kita memang kurang peduli terhadap pertunjukkan tradisional. Ini suatu pertanda bahwa apresiasi kita terhadap seni tradisional sangat lemah. Dampaknya, budayawan dan seniman yang berkecimpung dalam kesenian tradisional akhirnya juga tidak diapresiasi dengan baik. Dalam event-event yang diadakan selama ini, kita hanya mendapati hanya segelintir acara yang di dalamnya mementaskan seni tradisional. Pengaruhnya tentu sangat terasa, kita sebagai masyarakat Indonesia kurang pengetahuan tentang kekayaan budaya negeri sendiri.

Adapun apresiasi terendah terhadap seni tradisional Indonesia barangkali lebih besar menghingapi kalangan muda. Betapa tidak, pertunjukkan musik modern memang sudah mendarah daging di kalangan mayoritas anak muda saat ini. Berdesak-desakan untuk menonton konser musik modern nampaknya memang menjadi suatu hal yang lumrah. Alih-alih takut disebut “gak gaul”, pementasan kesenian tradisional pun ditinggalkan.

Melihat permasalahan ini, jalan yang bisa ditempuh untuk memajukan kebudayaan nasional yang di dalamnya mencakup kebudayaan tradisional tiada lain harus diawali dengan menumbuhkan rasa cinta terhadap kesenian daerah. Rasa cinta inilah yang nantinya mendorong kita, khususnya pemuda, memiliki rasa ingin tahu terhadap kesenian masing-masing daerah dan menghargai kesenian tersebut. Di sisi lain, event-event pertunjukkan seni tradisional juga harus diperbanyak. Pihak lain tentu tidak akan berani mencuri apa yang kita anggap berharga sedangkan kita sendiri memiliki pengetahuan yang mendalam dengan kesenian tersebut. Kita tentu tidak rela lagu rasa sayange yang berasal dari Maluku, kesenian Reog Ponorogo hingga tari pendet Bali diklaim kepemilikannya oleh bangsa asing.

Pemuda sebagai penduduk terbanyak di negeri ini jelas memiliki peran besar sebagai apresiator seni tradisional. Melalui tangan pemudalah kesenian kita bisa berkembang jika diapresiasi dengan baik. Tidak hanya itu, kaum muda jualah yang nantinya bertindak sebagai penerus dan pemelihara kesenian tradisional karya anak bangsa yang tersebar di berbagai pelosok negeri. Budayawan kita tentu tidak bisa selamanya mengurus keberlangsungan kesenian daerah yang ada selama ini. Mari kita apresiasi budaya Indonesia.

Hifdzi Ulil Azmi

Mahasiswa Farmasi UI