Monthly Archives: Agustus 2009

Riwayat singkat WS Rendra

Jakarta (ANTARA News) – Setelah dirawat karena menderita serangan jantung koroner, budayawan dan penyair besar Indonesia WS Rendra wafat pada usia ke-74 di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Depok, Jawa Barat.

Pendiri Bengkel Teater yang termasyur itu dikenal sebagai seniman serba bisa, tidak hanya budayawan terkemuka nasional, penyair dan dramawan besar, namun juga seorang aktor.

Disutradarai Sjuman Djaya, dan berpasangan dengan aktris Yati Octavia, pada 1977, Rendra pernah membintangi film remaja “Yang Muda Yang Bercinta,” namun kemudian dilarang beredar karena tujuan-tujuan politis saat itu.

Dalam salah satu penampilan puisi terkenalnya pada Mei 1998, di ruang gedung DPR RI semasa awal reformasi, almarhum berorasi dengan membacakan puisi karya aktivis dan penyair Wiji Thukul yang kesohor, “Hanya ada satu kata, Lawan!”

Jauh sebelum itu, pada 1990an, bersama para seniman dan musisi seperti Iwan Fals, Setiawan Jodi, Sawung Jabo, dan lainnya, Rendra menggelar konser Kantata Takwa yang fenomenal dan mengusik rezim Orde Baru saat itu, diantaranya dengan menggelegarkan lagu “Bento” yang penuh kritik.

Di luar kehidupan rumah tangganya yang ramai oleh perhatian media, Rendra mungkin merupakan salah seorang sastrawan Indonesia paling berpengaruh tidak hanya pada dunia seni dan sastra nasional kontemporer, namun juga pergerakan sosial dan politik Indonesia pada empat dekade terakhir.

Lahir pada 7 November 1935 di kota Solo, Jawa Tengah, Rendra yang juga cerpenis ini pernah berkuliah pada Jurusan Sastra Inggris, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, setelah sebelumnya menamatkan SD sampai SMA di St. Yosef, Solo, pada 1955.

Pada 1964, dia memperoleh beasiswa dari American Academy of Dramatical Art, sampai selesai menempuhnya pada 1967.

Salah seorang ikon sastra nasional yang dikenal dengan sebutan “Si Burung Merak” ini terlahir dari pasangan Raden Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah, dengan nama Willibrordus Surendra Broto Rendra.

Sejak masa remaja, Rendra sudah terbiasa menulis naskah drama sampai kemudian menjadi salah seorang dramawan besar Tanah Air, namun dikenal sebagai sastrawan independen dan memiliki ciri khasnya sendiri.

Oleh karena itu, mengutip Prof. A. Teeuw dalam “Sastra Indonesia Modern II (1989)” seperti ditulis Wikipedia Indonesia, Rendra tidak termasuk pada satu pun angkatan sastrawan Indonesia, baik Angkatan 45, Angkatan 60an ataupun Angkatan 70an.

Rendra menikah tiga kali dengan tiga perempuan berbeda. Pertama pada 31 Maret 1959 dengan Sunarti Suwandi yang darinya dia dikarunia lima anak, yaitu Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa dan Klara Sinta.

Kedua, pada 12 Agustus 1970, dia menikahi murid seninya yang juga keturunan Keraton Yogyakarta, Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat. Dari Sitoresmi, Rendra dikaruniai Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati.

Terakhir, Rendra menikahi Ken Zuraida, hingga kemudian dikarunia Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Pada 1979 dan kemudian pada 1981, Rendra berturut-turut menceraikan Sitoresmi dan Sunarti.

Diantara belasan naskah drama terkenalnya adalah “Orang-orang di Tikungan Jalan,” “Panembahan Reso,” dan “Kasidah Barzani.” Rendra juga menulis banyak puisi dan sajak, diantaranya yang terkenal adalah “Nyanyian Angsa” dan “Sajak Rajawali.”

Rendra juga beberapa kali memperoleh penghargaan sastra, diantaranya yang prestisius adalah Penghargaan Adam Malik pada 1989, S.E.A. Write Award pada 1996, dan Penghargaan Achmad Bakri pada 2006. (*)

http://www.antaranews.com/berita/1249581342/riwayat-singkat-ws-rendra

W.S Rendra Wafat

ws_rendra-01JAKARTA–Indonesia kehilangan seniman terkemuka. Seorang sastrawan, penulis, dan dramawan berkaliber internasional, WS Rendra (74 tahun) yang dikenal dengan sebutan si Burung Marak, meninggal dunia pada Kamis (6/8) malam, sekitar pukul 22.30 di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Depok, Jabar.

Kerabat Rendra yang juga Direktur Eksekutif Lembaga Kajian dan Survei Nusantara, Gugus Joko Wasito, mengirimkan kabar duka ini. “Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Telah meninggal (dunia) baru saja Mas WS Rendra di RS Mitra Keluarga, Depok. Mohon didoakan, trims,” demikian isi pesan singkat (SMS) dari Gugus Joko. Saat-saat terakhir, sang istri –Ken Zuraida– terus mendampingi Rendra.

Pria bernama lengkap Willy Sulaeman Rendra (Willibrodus Surendra) ini lahir di Solo, Jateng pada 7 November 1935. Beberapa bulan terakhir ini, rendra sering masuk rumah sakit akibat menderita gangguan jantung. Dia juga secara rutin menjalani cuci darah akibat gangguan kesehetan yang dideritanya.

Sejak SMP, Rendra dikenal memiliki bakat seni yang luar biasa. Ayah Rendra, Broto, merupakan seorang seniman sekaligus guru bahasa. Sedangkan ibunya, RA Ratnadilah, adalah seorang penari serimpi.

Pria yang sempat kuliah di jurusan Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada ini juga pendiri Bengkel Teater. Karya-karyanya begitu dikenal luas di dalam dan luar negeri.

http://www.republika.co.id/berita/67685/WS_Rendra_Wafat

Peningkatan Kesejahteraan yang Berkeadilan

SEBAGAI salah satu negara berpenduduk terbesar di dunia,wajar jika kelangsungan hidup penduduk Indonesia perlu diperhatikan secara serius oleh pemerintah.

Apalagi, jumlah penduduk miskin dan hampir miskin di Indonesia masih tergolong tinggi. Ini jelas meminta perhatian yang lebih serius dari pemerintah agar masalah ini dapat diminimalkan.Tentu harus ada upaya strategic plan yang terarah plus anggaran yang memadai agar angka kemiskinan di Indonesia mengalami penurunan hingga level yang normal.

Berdasarkan pidato presiden pada rapat paripurna luar biasa DPR-RI di Gedung MPR/DPR di Jakarta, Senin (3/8) lalu,anggaran untuk program kesejahteraan rakyat untuk 2010 mendatang ditetapkan mencapai Rp37 triliun. Secara garis besar,jumlah ini mencakup upaya pemeliharaan kesejahteraan rakyat, penataan kelembagaan,dan pelaksanaan sistem perlindungan sosial.

Disebutkan pula oleh Presiden bahwa program yang akan dijalankan nantinya berupa kenaikan gaji bagi pegawai negeri sipil (PNS),TNI,Polri, pensiunan, serta guru/dosen, serta pemberian BLT pada saat terjadi tekanan yang sangat berat terhadap kelompok keluarga miskin.Selain itu, program yang semula telah dijalankan adalah Bantuan Operasional Sekolah (BOS),Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas),PKH,Beras Bersubsidi,BLT bersyarat akan lebih diperkuat.Adapun satu yang tidak ketinggalan ialah memberikan perlindungan pada masyarakat miskin atau hampir miskin (near poor) dengan menyediakan jaring pengaman sosial.

Program-program yang diutarakan di atas tentu harus dioptimalkan oleh pemerintah agar target penurunan angka kemiskinan mencapai 12–13,5% sebagaimana yang telah ditargetkan sebelumnya. Oleh karena itu, program jaring pengaman sosial yang ditujukan untuk melindungi rakyat miskin dan hampir miskin harus ditangani secara baik dengan mekanisme yang tepat. Permasalahannya di sini tinggal merapikan objek yang mendapat perlakuan tersebut. Belajar dari pengalaman, masih ada ketidakadilan dalam proses penerimaan BLT.

Masih ada keluarga yang berkategorikan miskin, tapi tidak mendapatkan BLT, adapun yang hampir miskin mendapatkannya. Kesenjangan pun selalu berpotensi untuk terjadi karena ketidakrapian objek penerima BLT ini.Belum lagi dengan program lain yang lagi-lagi juga mendapat benturan masalah serupa,semisal Jamkesmas. Masalah ini jelas merupakan hal yang krusial karena di dalamnya mencerminkan keadilan pemerintah dalam menjalankan programnya.

Pendataan yang tepat dengan melibatkan institusi terkait sangat diharapkan agar jumlah keluarga miskin maupun hampir miskin di Indonesia dapat diketahui secara benar dan menyeluruh per provinsi, kabupaten, kota, bahkan hingga tingkat perdesaan,dan rukun warga dan rukun tetangga.

Meski tidak semudah membalikkan telapak tangan, kita tentu masih bisa berharap anggaran ini mampu dimaksimalkan agar upaya peningkatan kesejahteraan rakyat dapat berjalan optimal.Semoga angka kemiskinan di Indonesia dapat terus menurun.(*)

Hifdzi Ulil Azmi

Mahasiswa Farmasi FMIPA Universitas Indonesia

(dimuat di harian Seputar Indonesia, Kamis 6 Agustus 2009)

Mbah Surip Wafat

JAKARTA — Tuhan tiba-tiba saja mengangkat derajat Mbah Surip dengan begitu cepat lewat tembang “tak gendong”. Dari seorang gelandangan yang tak dilirik orang, tiba-tiba menjadi selebritis dengan kekayaan terakhir tercatat Rp 82 miliar.

Dan tiba-tiba saja, Mbah Surip diangkat ketenarannya secara tiba-tiba pula. Tuhan dengan cepat memangggil laki-laki yang tengah berada di titik kulminasi ketenarannya. Mbah Surip kini telah tiada.

Laki-laki yang menggelandang di ibukota dengan mimpi terakhirnya ingin mempunyai sebuah helikopter ini menghembuskan nafasnya pada hari Selasa (4/8) pukul 10.30.

Menurut informasi, bah Surip di bawa ke RS Pusdikkes, Jakarta Timur.”Meninggal pukul 10.30 WIB. Dibawa ke sini sudah meninggal,” kata Ibu Omega, bagian rekap medis di RS Pusdikkes, Jakarta Timur. Belum jelas Mbah Surip meninggal karena penyakit apa. Dia meninggalkan 4 anak dan 4 cucu setelah 26 tahun menduda.

http://www.republika.co.id/berita/66899/Mbah_Surip_Meninggal_Dunia

Profil Mbah Surip

Profil Mbah Surip :

* Nama Lengkap : Urip Ariyanto
* Nama Beken : Mbah Surip
* Tempat Lahir : Mojokerto, Jawa Timur
* Tanggal Lahir : 5 Mei 1949
* Gelar Pendidikan : Drs, Insinyur dan MBA
* Resep sehat : Jangan makan yang nggak kamu sukai dan bergaullah dengan orang yang kamu sukai.
* Pekerjaan lama : Engineer di bidang pengeboran minyak, tambang berlian, emas, dan lain2
* Makanan Favorit : Perkedel kentang
* Minuman Favorit : Kopi hitam
* Aliran Musik : Reggae
* Jargon : I Love You Full

http://oktavita.com/profil-mbah-surip.htm