Memahami Esensi Berkurban

Berkurban tidak semata-mata menyembelih hewan pada waktu ‘Iedul Qurban, walaupun kata qurban sendiri secara bahasa adalah hewan yang disembelih. Akan tetapi yang lebih penting adalah memahami makna qurban itu sendiri sebagai sarana qurbah, yakni mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Hajj ayat 37, daging dan darah hewan qurban yang disembelih tidak akan dapat mencapai keridlaan Allah melainkan ketakwaan dari orang yang berkurban.  Ketakwaan inilah yang bersifat fundamental yang setidaknya harus dimiliki setiap orang yang diberi kelapangan rizki untuk dapat melaksanakan perintah berkurban.

Saat nilai takwa ini tertanam dalam hati, maka dengan sendirinya nilai ibadah qurban yang bersifat vertical (hablumminallah) akan bertambah menjadi suatu bentuk hablumminannas yang dapat dirasakan oleh kerabat maupun kaum tak berpunya. Bentuk kepedulian dengan berbagi hewan sembelihan ini tentunya dapat mengurangi kecemburuan sosial yang terkadang kerap terjadi antara kaum berpunya dengan kaum tak berpunya.

Momen Idul Adha hingga akhir hari tasyriq (13 Dzulhijjah) adalah saat yang indah yang dirasakan oleh kaum fakir miskin yang tentunya tidak mereka rasakan pada hari-hari lainnya. Pada saat inilah, apa yang biasanya dirasakan oleh orang berkecukupan harta  dapat dirasakan pula oleh golongan bawah. Semua orang bisa memakan daging tak terkecuali bagi yang tidak sanggup membelinya.

Jika kita dapat melihat lebih dalam, sungguh bisa kita dapatkan betapa indahnya Islam yang mensyariatkan hal demikian. Disamping perintah berkurban, masih ada lagi perintah membayar zakat fitrah maupun zakat mal yang bila dioptimalkan berpotensi sebagai pemecah kebuntuan di antara sesama. Perintah-perintah seperti ini menyuratkan secara lugas bahwa kekayaan mutlak tidak berlaku di sisi Allah selama apa yang dimilikinya itu tidak mampu meningkatkan keimanannya, salah satunya dengan menjalankan perintah berkurban  baik perseorangan maupun berserikat.

Dengan berkurban, rasa kepedulian sosial akan tumbuh dalam diri seseorang. Dan yang patut kita yakini adalah bahwa perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, tidak akan pernah habis hartanya karena apa yang disedekahkannya itu. Sebaliknya, hartanya akan menjadi berkah tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga orang lain.

Hifdzi Ulil Azmi

Mahasiswa Farmasi FMIPA UI

(dimuat di harian Seputar Indonesia, Selasa 9 Desember 2008)

Posted on Juli 15, 2009, in Tulisanku di Koran and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: