Pembelajaran politik dari Pemilu AS


McCain 2008Angin segar demokrasi di AS baru saja muncul pasca kemenangan telak senator muda Barack Obama atas pesaingnya John McCain dalam Pilpres AS. Obama dengan usianya 47 tahun, jauh lebih muda daripada McCain di luar dugaan mampu memenangkan persaingan. Ini sudah cukup dijadikan pertanda bahwa tidak selamanya yang muda kalah segala hal daripada kaum tua.

Ada beberapa hal positif dari kemenangan Obama yang kiranya patut dijadikan contoh bagi elite parpol di Indonesia. Yang pertama adalah sikap sportif yang perlu dijunjung tinggi sekalipun dalam konteks bersaing dengan lawan. Sikap sportif ini yang ditunjukkan Obama dalam meladeni McCain. Obama yang dicalonkan dari partai Demokrat ini tidak peduli dengan berbagai tuduhan yang dilontarkan McCain serta tidak lantas membalas tuduhan tersebut. Saat McCain begitu sibuk mencari-cari kesalahan Obama, sikap dewasa pada diri Obama mampu membuat dirinya tak terpancing dengan derasnya tuduhan negatif tersebut. Sebaliknya, Obama mampu mengoptimalkan potensinya dalam mencari dukungan dengan cepat dan agresif melalui jaringan dunia maya, lebih agresif ketimbang lontaran negatif yang diucapkan McCain.

Hal positif kedua yang perlu kita ketahui adalah bahwa perbedaan yang sifatnya kecil tidak perlu dibesar-besarkan. Perbedaan ini tidak harus menjadi pertimbangan bahwa si A tidak boleh atau tidak pantas menjabat sebagai pemimpin. Perbedaan ras maupun suku sangat tidak wajar jika dijadikan pertimbangan dalam menentukan pilihan. Obama yang berasal dari kaum kulit hitam nyatanya mampu menaklukan pesaingnya yang berkulit putih. Bahkan, tidak sedikit yang menjatuhkan pilihan pada Obama ini merupakan warga AS berkulit putih.

Di Indonesia sendiri, sikap mencari-cari kesalahan orang lain masih nampak pada persaingan menjadi pemimpin. Di sisi lain, nampaknya nama-nama lama akan kembali dicalonkan untuk menduduki singgasana RI-1 hanya karena didukung parpol besar dan terkenal. Sementara pihak lain yang lebih muda, idealis dan jauh lebih segar dan cerdas akhirnya terpinggirkan tak mendapat kesempatan. Jika seperti ini, regenerasi pemimpin di negeri ini menjadi terhambat.

Jika kita kembali pada peristiwa kemenangan Obama di AS, parpol-parpol di Indonesia harusnya tidak terpaku untuk mencalonkan pemimpin yang itu-itu saja hanya karena posisi strategisnya di parpol. Partai Demokrat di AS saja berani mangambil tindakan mencalonkan pemimpin muda yang masih segar dan nyatanya membuahkan hasil brilian. Beranikah parpol di Indonesia berbuat demikian?

Hifdzi Ulil Azmi

Mahasiswa Farmasi FMIPA Universitas Indonesia

(dimuat di harian Seputar Indonesia, Kamis 13 November 2008)

Posted on Juli 14, 2009, in Tulisanku di Koran and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: