Prjuangan dan Refleksi Diri

Sesaat lagi kita sebagai bangsa Indonesia akan memperingati kemerdekaan RI ke-63. Merdeka, suatu kenikmatan yang tidak dialami oleh para pejuang dari pelosok negeri ini yang telah gugur sebelum 17 Agustus 1945. Mereka yang berjuang habis-habisan, sementara kita yang merasakan kemerdekaan.

Setelah menyerahnya Jepang tanpa syarat dari sekutu, Indonesia dilanda vacuum of power (kekosongan kekuasaan). Momen ini akhirnya dimanfaatkan untuk merencanakan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Masalah baru muncul, terjadi perbedaan pendapat antara kaum tua (dipimpin Ir.Soekarno) dan muda (Soekarni dkk). Kaum tua menghendaki proklamasi kemerdekaan RI harus dilalui melalui sidang PPKI terlebih dahulu yang direncanakan pada tanggal 18 Agustus. PPKI merupakan panitia untuk pelaksanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia yang diusulkan oleh Jepang melalui Marsekal Terauchi. Di pihak kaum muda, mereka menginginkan agar proklamasi ini dilaksanakan secepatnya tanpa melalui sidang PPKI agar kemerdekaan ini tidak terkesan sebagai pemberian Jepang dan sebelum pihak sekutu datang ke Indonesia untuk mengambil alih Indonesia dari tangan Jepang.

Perbedaan inilah yang akhirnya memunculkan peristiwa Rengasdengklok. Kaum muda membawa Ir.Soekarno dan Moh.Hatta pada tanggal 16 Agustus pukul 04.00 WIB ke daerah ini  agar menjauhkan mereka dari pengaruh Jepang. Soekarni dengan dibantu oleh Singgih dari kaum muda akhirnya berhasil mendesak Ir.Soekarno agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Proklamasi kemerdekaan bangsa ini pun berlangsung pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta dalam keadaan sangat cerah. Upacara proklamasi yang berlangsung sekitar satu jam ini telah membawa perubahan sangat besar bagi bangsa ini.

Perjuangan ini berbuah hasil dengan usaha keras rakyat Indonesia. Perjuangan yang tidak hanya melalui pertumpahan darah di berbagai daerah, melainkan juga pemikiran dalam menyatukan pendapat antara kaum muda dan tua yang awalnya tetap bersikukuh dengan pendirian masing-masing. Kesepakatan yang baik melalui pemikiran yang jernih inilah yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Namun miris rasanya jika kita melihat kondisi saat ini, salah satunya ialah kesepakatan untuk korupsi berjamaah yang sudah kita dengar sendiri di media oleh beberapa wakil rakyat. Perjuangan yang telah dilakukan dengan pengorbanan yang tak ternilai ini dilanjutkan dengan kompromi buruk beberapa wakil rakyat. Mari selamatkan bangsa Indonesia, hindari persekongkolan yang justru akan menjatuhkan negeri ini.

Hifdzi Ulil Azmi

Mahasiswa Farmasi Fakultas MIPA UI

(dimuat di harian Seputar Indonesia, Kamis 14 Agustus 2008)

Posted on Juli 14, 2009, in Tulisanku di Koran and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: