Deskripsi program konkret (Capres-Cawapres)

pasangan-capres-cawapres2

Masa kampanye calon presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tinggal delapan hari lagi hingga 4 Juli mendatang. Namun sangat disayangkan, karena program yang ditawarkan tiap kandidat masih banyak yang sebatas wacana teoritis. Padahal yang dibutuhkan oleh rakyat ialah dalam lingkup tataran teknis, yakni mencakup upaya-upaya apa saja yang harus dilakukan untuk kemajuan bangsa baik di sisi politik, ekonomi, hankam, sosial, kesehatan, pendidikan dan lain-lain.

Penyakit yang masih menjamur di antara para kandidat diantaranya ialah masih berperang sebatas slogan. Berbagai iklan di media elektronik dan cetak yang diusung pasangan capres-cawapres lebih banyak mengumbar jargon ketimbang program konkret yang ditawarkan. Baru saat debat saja program-program yang dimiliki segera dikeluarkan. Itu pun beberapa juga masih dalam tataran teoritis, belum teknis.

Program yang konkret paling tidak memuat upaya-upaya apa saja yang akan dilakukan, mencakup sasaran kuantitatif dan analisa mengapa program itu harus dijalankan. Jika program tersebut memang kenyataannya memiliki resiko tidak baik di awal namun akan berdampak pada kemajuan yang besar, para kandidat tidak perlu malu untuk mengungkapkannya. Pengetahuan tentang baik buruknya suatu kebijakan tentu akan memberi nilai plus bahwa kandidat tersebut telah menguasai serta menyiapkan program tersebut secara matang dengan mempertimbangkan banyak sisi baiknya.

Sebagai contoh ialah program ekonomi kerakyatan versus system ekonomi yang cenderung neoliberal yang diusung oleh kandidat capres-cawapres saat ini. Tiap system ini tentu memiliki resiko buruk masing-masing, namun bisa membawa kepada kemajuan jika diterapkan secara benar. Maka yang dibutuhkan oleh rakyat adalah penjelasan yang konkret tentang system ekonomi tersebut, mencakup baik buruknya serta bagaimana menanggulangi keburukan kedua system tersebut.

Kita tentu tak ingin usaha kecil dan menengah yang dibangun secara serempak nyatanya langsung mati dihantam oleh industri besar. Kita juga tak ingin dampak buruk system ekonomi liberal yang menyebabkan kekayaan kita dihargai murah oleh pihak asing karena ketidakmampuan kita dalam mengolah sumber daya alam. Pertanyaan inilah yang seharusnya bisa dijawab oleh tiap kandidat capres-cawapres agar program ekonomi yang ditawarkan menjadi konkret.

Terakhir, program-program yang dimiliki masing-masing kandidat capres-cawapres hendaknya sesuai dengan masalah-masalah yang umumnya terjadi pada rakyat saat ini. Artinya, program yang ditawarkan harus dapat menjawab tuntutan permasalahan yang saat ini sedang dialami oleh rakyat Indonesia, bukan sekedar keinginan pemerintah belaka.

Hifdzi Ulil Azmi

Mahasiswa Farmasi Universitas Indonesia

(dimuat di harian Seputar Indonesia, Sabtu 27 Juni 2009)

Posted on Juli 14, 2009, in Tulisanku di Koran and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: